Kontraktur


Salah satu problem yang timbul pasca luka bakar adalah problem fungsi dan estetik. Penyembuhan luka selalu meninggalkan parut, demikian juga pada luka bakar; bahkan luka bakar dikenal sering membentuk parut yang berlebihan.

Gangguan fungsi bisa terjadi sebagai akibat dari :
  • Penyembuhan yang memakan waktu lama, sehingga menimbulkan kekakuan (kontraktur) akibat dari organisasi bahan-bahan inflamasi.
  • Parut yang berlebihan / tebal, sehingga mengganggu gerakan.
  • Maturasi jaringan parut yang disertai proses pengerutan, sehingga timbul kontraktur.
Kontraktur terjadi jika jaringan parut luka bakar menebal dan memendek, sehingga membatasi gerakan kedua arah (ekstensi atau fleksi). Kontraktur adalah komplikasi serius dari luka bakar. Jika seorang anak mengalami kontraktur, maka ia tidak dapat menggerakkan daerah yang kontraktur secara normal. Sebagai contoh, anak-anak akan kesulitan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya bisa mereka lakukan, seperti berpakaian, makan, bermain, dsb - tergantung dari lokasi kontraktur.

Beberapa hal yang bisa meminimalkan terbentuknya jaringan parut dan mencegah kontraktur, antara lain :

  • Memakai bidai
    Kadang-kadang, setelah seorang anak mengalami luka bakar, dia perlu memakai bidai pada persendiannya untuk menjaganya agar tetap lurus dan mencegah terjadi kontraktur.
  • Melatih Range Of Motion (jarak pergerakan)
    Latihan Range of motion (ROM) membantu untuk menjaga agar otot dan sendi yang mengalami luka bakar menjadi lebih fleksibel.
  • Mengusahakan Kemandirian
    Seorang anak harus didukung untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebanyak mungkin. Contohnya, anak dibiarkan makan, menggosok gigi, menyisir rambut dan berpakaian sendiri. Walaupun biasanya ada kesulitan kecil, biarkan mereka melakukannya dan hindari untuk segera membantunya. Pergerakan yang timbul pada kegiatan sehari-hari akan membantu daerah jaringan parut teregang.
Suatu luka yang luas dan tidak mungkin menutup sendiri dapat diterapi dengan skin graft. Skin graft pada dasarnya adalah memindahkan kulit yang sehat dari bagian tubuh yang lain, yang disebut “donor”, ke daerah lain dimana kulit hilang atau mengalami kerusakan. Warna dan tekstur dari graft dipilih yang paling sesuai dengan kulit sekitar daerah yang digraft.

Kulit terdiri dari dua lapis. Lapisan epidermis yang tipis dan lapisan dermis yang lebih tebal. Di bawah kulit terdapat jaringan lemak subkutan. Skin graft diambil dari epidermis atau bersama dengan dermis. Kadang-kadang juga jaringan subkutan ikut diambil untuk menutupi daerah tulang atau diatas tendo. Jaringan lemak ini berfungsi sebagai bantalan.

Adapun jenis graft antara lain : split-thickness grafts, yang terdiri dari epidermis dan dermis yang tipis. Biasanya digunakan untuk menutup luka bakar atau luka yang luas. Full-thickness grafts, yang terdiri dari epidermis dan lapisan dermis secara keseluruhan. Graft jenis ini paling baik untuk menutup daerah yang kecil, dimana kesesuaian warna kulit dan tekstur merupakan pertimbangan penting. Pedicle flap atau grafts, yang meliputi epidermis, dermis dan jaringan subkutan. Graft jenis ini biasanya digunakan untuk menutupi luka atau daerah yang memerlukan operasi tambahan untuk perbaikan tulang, tendo, atau nervus yang rusak.

Komplikasi pada skin graft antara lain : infeksi dapat terjadi pada tempat graft atau pada daerah donor. Jika infeksi berat dan aliran darah tidak ada, skin graft akan mati. Kadang-kadang graft tertarik, sehingga bentuknya menjadi tidak baik. sensasi pada daerah graft dapat juga terpengaruh. Sensasi dapat meningkat atau bahkan menurun.

Daerah yang baru sembuh dam masih dalam proses resorbsi / maturasi harus dihindarkan dari iritasi; baju yang seratnya kaku, sinar matahari, dan sebagainya. Medikamentosa yang dapat membantu penyembuhan antara lain vitamin C, vitamin D dan vitamin E.

Dari anamnesis dapat disimpulkan bahwa kontraktur pada pasien di atas terjadi karena perawatan pasca luka bakar tidak dilakukan dengan baik. Pasien keluar rumah sakit saat menjalani perawatan selama 2 minggu dan tindakan pencegahan terjadinya kontraktur tidak dilanjutkan setelah pasien pulang ke rumah.

Dari pemeriksaan fisis didapatkan kontraktur pada digiti I - V manus dekstra dan jaringan sikatriks sampai ke siku. Dari inspeksi jaringan parut sudah tidak tampak lagi folikel rambut sehingga diperkirakan luka bakar adalah derajat II dalam atau derajat III.

Pada pemeriksaan range of motion, didapatkan gerakan yang terbatas baik pada gerakan fleksi maupun ekstensi akibat jaringan kontraktur antara digiti dan palmar.

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisis maka pasien didiagnosis sebagai kontraktur digiti I - V post combustio. Sedangkan terapi untuk memperbaiki fungsi dan estetika adalah release kontraktur yang dilanjutkan dengan pemasangan skin graft pada daerah luka yang timbul akibat pembuangan kontraktur. Perawatan pasca operasi adalah pemasangan gips spalk, bebat tekan dan pemberian antibiotik. Anjuran pada pasien ini adalah dilakukan foto manus dekstra untuk melihat apakah sudah terjadi deformitas sendi, dan dilakukan kontrol graft pasca operasi.