Retinopati Nefritik


PENDAHULUAN

Retinopati adalah suatu degenerasi atau kelainan dari retina, dengan dasarnya penutupan pembuluh darah, sehingga mengakibatkan gangguan nutrisi dari retina. Retinopati dapat disebabkan oleh beberapa penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitius, arteriosklerosis, nefritis yang disertai dengan hipertensi dan anemia sekunder. 1

Pemeriksaan mata pada penderita penyakit ginjal merupakan komponen esensial yang perlu dievaluasi. Oleh karena kelainan mata dapat timbul secara tidak langsung pada penderita penyakit ginjal yang diinduksi oleh adanya peningkatan tekanan darah. Hipertensi dan penyakit ginjal memiliki kaitan yang erat. Penyakit ginjal akut maupun kronik dapat menyebabkan hipertensi atau dapat berperan pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air, pengaruh vasopressor dari sistem renin-angiotensin-aldosteron. 2

Dan pada umumnya kelainan retina hanya timbul pada nefritis yang disertai hipertensi dan anemia sekunder.1

ANATOMI

Retina merupakan membran tipis yang terdiri atas saraf sensorik penglihatan dan serat saraf optik. Retina merupakan jaringan saraf yang dibagian luarnya berhubungan erat dengan koroid. Koroid memberi metabolisme pada retina luar atau sel kerucut dan batang. Bagian koroid yang memegang peranan penting dalam metabolisme retina adalah membrana bruch dan sel epitel pigmen. Retina bagian dalam mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.3

Retina terbagi atas tiga lapis utama yang membuat sinaps saraf sensibel retina yaitu sel kerucut dan batang, sel bipolar dan sel ganglion. 3

Terdapat 10 lapisan yang dapat dibedakan secara histologik, yaitu dari luar ke dalam : 1,3
1. Lapis pigmen epitel.
2. Lapis sel kerucut dan batang yang merupakan sel fotosensitif.
3. Membran limitan luar.
4. Lapis nukleus luar merupakan nukleus sel kerucut dan batang.
5. Lapis pleksiform luar, persatuan akson dan dendrit.
6. Lapis nukleus dalam merupakan susunan nukleus sel bipolar.
7. Lapis pleksiform dalam, persatuan dendrit dan akson.
8. Lapis sel ganglion.
9. Lapis sel saraf, yang meneruskan dan menjadi saraf optik.
10. Membran limitan interna yang berbatasan dengan badan kaca.

Arteri pada retina merupakan arteri terminal dan tidak ada anastomose. Arteri diameternya lebih kecil daripada vena dengan perbandingan A:V = 2:3. Warnanya lebih merah, bentuknya lebih lurus, sedangkan vena tampak lebih besar, warna lebih tua dan berkelok-kelok.1
ETIOLOGI
Penyakit ginjal yang dapat menyebabkan timbulnya retinopati nefritik misalnya glomerulonefritis akut yang terjadi pada anak-anak, glomerulonefritis kronik, gagal ginjal dan sebagainya.1

Pada kelainan-kelainan di atas dapat menginduksi terjadinya hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air serta pengaruh vasopressor dari sistem renin-angiotensin-aldosteron dan selanjutnya akan berkembang menjadi retinopati nefritik. Selain itu, penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan timbulnya anemia kronis yang juga menyebabkan timbulnya kelainan pada retina.4

GEJALA KLINIK
Pasien mungkin tidak memiliki keluhan apapun dan kondisi ini ditemukan pada pemeriksaan rutin dengan funduskopi. Jika daerah makula terlibat terjadi penurunan visus. Keadaan ini biasanya bilateral. 6

Pada retinopati nefritik maupun retinopati hipertensi, kelainan sklerosisnya merupakan bagian dari sklerosis yang umum. Perjalanan penyakit dari retinopati nefritik sama dengan retinopati hipertensi sehingga dapat ditemukan adanya gambaran klinis yang sama.1

Peningkatan tekanan darah akibat penyakit ginjal dikenal sebagai hipertensi renalis dimana penyebab primernya adalah kelainan parenkim ginjal. Dan pada umumnya, kelainan retina hanya timbul pada nefritis yang disertai dengan hipertensi atau anemia sekunder.1,4

Pada glomerulonefritis akut yang terjadi pada anak-anak didapatkan kelainan retina berupa arteriola yang menyempit, disertai edema ringan dari papil saraf optik, beberapa cotton wool patch dan perdarahan. Perdarahan pada retina biasanya tampak seperti bulu ayam yang disebut flame-shape type atau feather shape hemorrhage di mana perdarahan terjadi pada lapisan saraf dan bentuknya mengikuti jalan saraf. Tanda subyektif pada perdarahan retina dapat berupa gangguan visus yang tergantung pada besar, lokalisasi dari perdarahan. Keadaan ini dapat menghilang kembali dengan perbaikan keadaan umumnya. 1,5

Glomerulonefritis kronik disertai hipertensi, dalam perjalanan penyakitnya dapat menimbulkan kelainan retina yang menyerupai retinopati pada hipertensi essensial, dengan arteriola yang menyempit karena hipertoni, hiperplasia dinding arteriola yang menyebabkan kaliber kolom darah yang tidak teratur misalnya cupper wire arteriola, silver wire arteri, fenomena crossing, fenomena gun dan akhirnya mungkin menimbulkan perdarahan, cotton wool patch dan edema papil didapatkan pada fase maligna. Keadaan retina pada stadium lanjut ini dinamakan pula retinopati albuminurika.1,4,6,7,8
DIAGNOSIS

Retinopati nefritik dapat ditegakkan diagnosisnya bila didapatkan adanya kelainan pada retina sebagai manifestasi dari penyakit ginjal yang terjadi.
Diagnosis retinopati nefritik didasarkan atas : 1

  1. Anamnesis : adanya gangguan visus yang sebelumnya diawali dengan adanya riwayat penyakit ginjal yang disertai dengan hipertensi.
  2. Gejala klinik
  3. Gambaran retina dengan funduskopi.
PENATALAKSANAAN

Pengobatan pada retinopati nefritik pada umumnya ditujukan pada penyebabnya, yaitu adanya kelainan pada ginjal. Meskipun demikian, kelainan tersebut tidak dapat diobati dengan sempurna misalnya pada nefritis yang menahun. Dan secara umum dapat dilakukan pengobatan dengan cara :
1. Pengaturan diet.
2. Obat penurun tekanan darah.
3. Tindakan operatif bila perlu, dari ginjal atau kelenjar adrenal.

PROGNOSIS

Prognosis retinopati nefritik tergantung pada tingkat kelainan retina yang ditimbulkan akibat hipertensi renalis. Bila terjadi edema dan perdarahan pada retina maka prognosisnya adalah buruk. Selain itu prognosis bergantung pula pada derajat penyakit ginjal pasien.6

DAFTAR PUSTAKA
  1. Wijana, N. Gangguan sirkulasi. Dalam : Ilmu Penyakit mata. Edisi revisi. Cetakan ke-6. Penerbit Abadi Tegal. Jakarta, 1993 : 164-80
  2. The International Committee for Nomenclature and Nosology of Renal Disease. Opthalmic diagnosis of renal disease. In : A handbook of kidney nomenclature and nosology. Little, Brown & Company. Boston, 1988 : 247-55
  3. Ilyas, S. Penuntun ilmu penyakit mata. Balai Penerbit FK-UI. Jakarta, 1996 : 70-94
  4. Oesman, R. Susalit, E. Hipertensi renal. Dalam : Soeparman editor. Ilmu penyakit dalam. Jilid II. Balai Penerbit FK-UI. Jakarta, 1990 : 247-55
  5. Wolff, E. Renal retinitis. In : Disease of the eye, a textbook for students and practitioners. Second edition. Cassel & company, LTD. London, 1945 : 71-2
  6. Seal, G.N. Retinopathies. In : Ophthalmology. Current book international. Calcutta, 1987 : 356-61
  7. Scheie, H.G., Albert, D.M. Renal disease. In : Textbook of ophthalmology. Ninth edition. WB Saunders Company. Philadelphia, 1997 : 425
  8. Hamburger, J. et. all. Hypertension of renal origin. In : Nephrology. WB Saunders company. Philadelphia, 1981 : 383-5