4 Jan 2006

Benign Paroxysmal Positional Vertigo


PENDAHULUAN

Vertigo adalah perasaan rotasi (memutar) tanpa sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar (vertigo objektif) atau badan yang berputar (vertigo subjektif).

Salah satu penyebab vertigo yang sering dijumpai adalah benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) yaitu vertigo yang terjadi akibat perubahan posisi kepala secara cepat dan tiba-tiba, biasanya vertigo dirasakan sangat berat, berlangsung dengan singkat hanya beberapa detik saja walaupun penderita merasa lebih lama. Dapat disertai rasa mual tetapi jarang sampai muntah, yang mengakibatkan penderita menjadi sangat khawatir, dapat timbul lagi sehingga penderita sangat berhati-hati dengan posisinya, sering berulang dan biasanya disertai nistagmus.

Anatomi organ vestibular perifer

Organ vestibuler perifer terdiri dari 3 kanalis semisirkularis, masing-masing kanalis semisirkularis lateralis, kanalis semisirkularis anterior dan kanalis semisirkularis posterior, serta dua makula yaitu makula sakula dan makula utrikuli. Semuanya terdapat di dalam tulang temporal pada bagian yang disebut telinga dalam (labirin). Ketiga kanalis semisirkularis tersusun sedemikian rupa sehingga satu dengan lainnya terletak dalam bidang yang saling tegak lurus. Pada telinga sisi lainnya, kanalis semisirkularis merupakan bayangan cermin dari kanalis semisirkularis telinga lainnya, yaitu kanalis semisirkularis lateralis kanan dan kiri, kanalis semisirkularis anterior kanan dengan posterior kiri dan kanalis semisirkularis anterior kiri dengan posterior kanan. Sel-sel reseptor dari kanalis semisirkularis terdapat pada bagian ampula yang disebut krista ampularis.

Sakulus dan utrikulus mempunyai reseptor yang masing-masing disebut makula utrikuli dan makula sakuli. Kedua makula ini berada pada masing-masing bidang membentuk sudut 90„a satu dengan yang lainnya. Sel-sel sensoris pada makula tersusun sedemikian rupa menjadi dua kelompok yang dipisahkan oleh garis lengkung yang disebut striola. Pada makula utrikuli, sel-sel sensoris di kedua sisi striola mempunyai susunan silia/kinosilium ke arah striola, sedang pada makula sakula, susunan silia/kinosilium sel rambut di kedua sisi striola adalah menjauhi garis striola. Di atas makula terdapat membran otolith yang akan merangsang sel rambut melalui silia/kinosilium oleh gaya akselerasi linear. Dengan demikian setiap perubahan yang terjadi pada posisi membran otolith, akan menghasilkan respon fisiologis yang berlawanan arah pada sel-sel rambut di kedua sisi striola.

ETIOLOGI

Etiologi yang pasti BPPV sangat sukar ditentukan. BPPV dapat disebabkan oleh kelainan idiopatik, trauma, otitis media, pembedahan telinga, perubahan degeneratif karena usia tua dan kelainan pembuluh darah. Kelompok idiopatik merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan.

PATOFISIOLOGI

BPPV ditandai oleh adanya serangan vertigo pada saat posisi kepala pasien dipengaruhi oleh gravitasi. Hal ini terjadi bila kepala diletakkan ke belakang dengan telinga yang sakit di sebelah bawah. Karakteristik BPPV dapat dijelaskan melalui dua hipotesis. Hipotesis pertama adalah kupulolithiasis yang terjadi oleh adanya debris degeneratif atau fragmen otokonia dari utrikulus yang lepas dan melekat pada permukaan kupula kanalis semisirkularis posterior yang menghadap ke utrikulus, sehingga menjadi sensitif terhadap perubahan gravitasi. Lepasnya debris dari kupula dan mengembalikannya ke dalam vestibulum dapat menghilangkan gejala.

Hipotesis kedua adalah kanalolithiasis berupa debris degeneratif yang tidak melekat pada kupula kanalis posterior tetapi mengapung di dalam endolimfe labirin membran kanalis semisirkularis posterior. Bila kepala digerakkan ke posisi provokatif, debris akan bergerak menjauhi ampula. Pergerakan endolimfe ini menimbulkan inersia dari kupula sehingga terjadi perangsangan nervus ampularis dari kanalis. Dengan menggerakan kepala ke posisi tertentu akan menyebabkan debris keluar dari kanalis semisirkularis posterior ke dalam crus communis untuk selanjutnya mengalir ke vestibulum. Hal ini akan mengurangi gejala vertigonya.

Perubahan posisi dari tegak menjadi telentang dengan kepala menggantung dan telinga di bawah, menyebabkan pergeseran hebat pada kupula kanalis posterior. Timbulnya vertigo memerlukan waktu beberapa detik, karena untuk pergeseran massa tersebut diperlukan waktu. Besarnya sensasi vertigo dan nistagmus dipengaruhi oleh besarnya pergeseran kupula. Vertigo yang cepat hilang dapat disebabkan karena massa telah bergeser dan kupula kembali ke posisi normal.

GEJALA KLINIS

Pasien BPPV akan mengeluh jika kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas.

Penderita biasanya dapat mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo.

Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dalam frekuensi dan intensitasnya dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun. Pada BPPV tidak didapatkan gangguan pendengaran.

DIAGNOSIS

Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis pemeriksaan THT, uji posisi dan uji kalori.

Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal.

Uji posisi dapat membantu mendiagnosa BPPV, yang paling baik adalah dengan melakukan manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan nistagmus posisi dengan gejala :
  1. Mata berputar dan bergerak ke arah telinga yang terganggu dan mereda setelah 5-20 detik.
  2. Disertai vertigo berat.
  3. Mula gejala didahului periode laten selama beberapa detik (3-10 detik).
  4. Pada uji ulangan akan berkurang, terapi juga berguna sebagai cara diagnosis yang tepat.
Tindakan vibrasi selain merupakan terapi juga berguna sebagai cara diagnosis yang tepat.

DIAGNOSIS BANDING

Vertigo posisi akibat kelainan kompleks nukleus vestibularis serebellum, meniere, neuritis perifer.

TERAPI

Terapi medikamentosa
Dapat diberikan diazepam 2 mg dan meclizine 12,5 mg satu jam sebelum tidur untuk mengurangi serangan vertigo akibat gerakan-gerakan saat tidur.

Terapi Fisik
  1. Berdasarkan hipotesis Kanalolithiasis
    Dapat digunakan perasat Epley yaitu posisi kepala 45 „a menoleh ke arah telinga yang sakit, kemudian pasien digerakkan dari posisi duduk ke posisi Hallpike dengan telinga sakit di bawah. Pasien dapat dipertahankan dengan posisi ini selama 3 menit dan kemudian kepala dengan lambat dirotasikan ke arah berlawanan dan dipertahankan 4 menit lalu pasien didudukkan.
  2. Berdasarkan hipotesis Kupulolithiasis
    Digunakan terapi vibrasi dengan metode Epley dimana vibrator diletakkan pada processus mastoid telinga yang diduga menderita kelainan. Hal ini menyebabkan debris terlepas dan menyebar sehingga tidak mempengaruhi kupula. Metode ini merupakan terapi yang efektif tidak mahal dan tidak invasif serta mudah dilakukan.
Terapi Bedah

Dilakukan neurectomy tunggal (posterior ampullary nerve section), dengan resiko tuli sensorineural 10 %.

PROGNOSIS

Karena BPPV merupakan kelainan vestibular perifer, dapat sembuh spontan dan dengan terapi vibrasi menunjukkan hasil yang baik, maka prognosisnya baik.

RINGKASAN

BPPV merupakan vertigo yang muncul akibat perubahan posisi kepala secara cepat dan tiba-tiba. Penyakit ini disebabkan oleh penumpukan debris dari mineral terutama pada kupula kanalis semisirkuler posterior, sehingga organ ini sensitif terhadap gravitasi dan perubahan posisi kepala. Etiologi yang pasti sukar ditetapkan diduga faktor idiopatik merupakan penyebab terbanyak.

Penatalaksanaan terbaik adalah menggunakan terapi vibrator dengan metode Epley karena merupakan terapi yang efektif, tidak mahal, tidak invasif dan mudah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Efiati, A.S, Nurbaiti I. Vertigo dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi ke-3 FKUI. Jakarta 1997. Hal 77-82.

  2. George, A.G. Vertigo in Current Therapy in Otolaryngology Head and Neck Surgery. B.C. Decker inc. Toronto 1987. Page 44-46.

  3. Harold, L. Vertigo dalam Petunjuk Penting pada Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Alih Bahasa Dr. Jansen L. Jakarta 1987. Hal. 32-34.

  4. Kerr A.G and Toner J.G. Vertigo in Scott-Brown¡¦s Otolarynongology. Edisi ke-6. The Queens University Belfast. Hal 18/1-18/10.

  5. Li, J. Benign Paroxysmal Positional Vertigo, http://www.emedicine.com. April 2002.

  6. Hain, Timothy, C. Benign Paroxysmal Postional Vertigo. http://www.yahoo.com, 2/2003.

  7. Leume, C.S. Penyakit Telinga dalam Boies Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi 6.EGC. Jakarta. 1994.