Kamis, 05 April 2007

Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor

Angiotensin II adalah bahan kimia yang sangat kuat yang menyebabkan otot dinding pembuluh darah berkontraksi sehingga pembuluh darah menyempit. Menyempitnya pembuluh berakibat pada peningkatan tekanan pembuluh dan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Angiotensin II dibentuk dari angiotensin I dalam darah oleh enzim, Angiotensin Converting Enzym (ACE). ACE Inhibitor adalah obat yang memperlambat (menghambat) aktivitas enzim ini, sehingga terjadi penurunan produksi angiotensin II. Hasilnya, pembuluh darah membesar atau dilatasi, dan tekanan darah turun. Tekanan darah yang rendah ini membuat jantung lebih mudah untuk memompa darah dan dapat memperbaiki fungsi jantung yang terganggu. Selain itu, kecepatan perjalanan penyakit ginjal yang diakibatkan oleh tekanan darah tinggi atau diabetes menjadi lebih lambat.

Untuk Kondisi Apa Saja ACE Inhibitor Digunakan?

ACE Inhibitor digunakan untuk mengontrol tekanan darah, mengobati gagal jantung dan mencegah kerusakan ginjal pada pasien hipertensi atau diabetes. Obat ini juga bermanfaat pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung.

Pada penelitian, individu dengan hipertensi, gagal jantung, atau ada riwayat serangan jantung sebelumnya, yang diobati dengan ACE Inhibitor hidup lebih lama daripada pasien yang tidak mendapat ACE Inhibitor. Karena obat ini mencegah kematian lebih dini akibat hipertensi, gagal jantung atau serangan jantung, ACE Inhibitor merupakan salah satu kelompok obat yang sangat penting.

Beberapa orang dengan hipertensi tidak berespon dengan baik pada ACE Inhibitor. Pada kasus demikian, obat lain dapat digunakan sebagai kombinasi ACE Inhibitor.


Perbedaan antara Berbagai Tipe ACE Inhibitor

Obat-obat dalam golongan ACE Inhibitor sangat mirip. Tetapi, obat-obat tersebut berbeda dalam hal caranya dieliminasi dari tubuh dan besarnya dosis. Beberapa ACE inhibitor perlu diubah ke dalam bentuk aktifnya di dalam tubuh sebelum obat tersebut dapat bekerja. Selain itu, beberapa ACE Inhibitor lebih bekerja pada ACE yang ditemukan dalam jaringan daripada ACE yang ada dalam darah. Pentingnya perbedaan ini, atau apakah suatu ACE Inhibitor lebih baik daripada ACE Inhibitor lainnya, belum dapat ditentukan.

Efek Samping ACE Inhibitor

ACE Inhibitor relatif dapat ditoleransi dengan baik pada kebanyakan individu. Akan tetapi, obat ini tidaklah bebas dari efek samping, dan beberapa pasien mungkin tidak dapat menggunakan ACE Inhibitor karena efek samping yang dialaminya.
ACE Inhibitor biasanya tidak diresepkan untuk wanita hamil karena dapat menyebabkan cacat pada bayi. Individu dengan masalah ginjal yang berat dan orang-orang yang mendapat efek samping berat terhadap ACE Inhibitor sebaiknyamenghindari obat ini.

Efek samping tersering adalah batuk, peningkatan kadar kalium darah, tekanan darah rendah, pusing, sakit kepala, mengantuk, lemah, pengecapan terganggu (rasa asin), dan bentol merah pada badan. Butuh waktu sekitar sebulan agar batuk mereda, dan jika salah satu jenis ACE Inhibitor menyebabkan batuk, mungkin sekali jenis ACE Inhibtor lain juga dapat menyebabkan batuk.

Efek samping yang berat, namun jarang terjadi, adalah gagal ginjal, rekasi alergi, penurunan sel darah putih, dan pembengkakan jaringan (angioedema).

Interaksi Obat Lain dengan ACE Inhibitor

ACE Inhibitor dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Karena ACE Inhibitor dapat meningkatkan kadar kalium darah, penggunaan suplemen kalium, pengganti garam (yang seirngkali mengandung kalium), atau obat lain yang dapat meningkatkan kalium tubuh, dapat menyebabkan kadar kalium darah berlebihan.

ACE Inhibitor juga dapat meningkatkan konsentrasi lithium darah (Eskalith) dan menyebabkan peningkatan efek samping lithium.

Telah dilaporkan bahwa aspirin dan obat-obat antiinflamasi non steroid (NSAIDs) seperti ibuprofen, indometasin, dan naproksen dapat menurunkan efek terapi ACE Inhibitor; tetapi, tidak ada bukti yang meyakinkan apakah interaksi ini, jika ada, bermakna.

Baca Juga

    DISCLAIMER

    Semua tulisan yang ada dalam blog IlmuDokter.Com hanya bertujuan untuk edukasi dan informasi semata dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan nasehat, pemeriksaan, diagnosis dan pengobatan yang dilakukan oleh dokter atau tenaga profesional medis lainnya. Semua informasi mengenai obat-obatan, terapi alternatif, suplemen makanan, dan lain-lain hendaknya tidak digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit. Jika Anda mempunyai masalah medis atau butuh nasehat medis, kami sarankan untuk berkonsultasi dengan dokter Anda. Kami tidak menjamin bahwa semua informasi dalam Blog ini benar, oleh karena itu Kami menganjurkan Anda untuk mencari informasi pembanding (second information). Terima Kasih :)