Status asmatikus dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan hasil pemeriksaan gas darah arteri.
Pasien tingkat 1 atau 2 dirawat di rumah sakit berdasarkan keparahan dispneanya, kemampuannya menggunakan otot assesorius, dan nilai peak expiratory flow (PEF) atau nilai forced expiratory volume dalam 1 detik (FEV1) setelah pengobatan (>50%).
Pasien tingkat 3 dan 4 membutuhkan perawatan intensif di ICU. Nilai PEF atau FEV1 kurang dari 50% setelah pengobatan.
Tingkat 1
Pasien tidak hipoksemia, tetapi mengalami hiperventilasi dan mempunyai tekanan oksigen parsial normal (PO2).
Tingkat 2
Pasien pada tingkat ini hampir sama dengan tingkat 1, tetapi mengalami hiperventilasi dan hipoksemia. Pasien tingkat ini dapat dijinkan keluar unit gawat darurat, tergantung responnya terhadap bronkhodilator, tetapi tetap diberikan kortikosteroid sistemik.
Tingkat 3
Pasien tingkat 3 secara umum tampak sakit dan mempunyai tekanan parsial karbondioksida (PCO2) normal akibat kelelahan otot pernapasan. Nilai PCO2 dianggap sebagai nilai normal palsu dan merupakan tanda serius kelelahan. Keadaan umumnya merupakan indikasi untuk intubasi elektif dan ventilasi mekanik, dan pasien membutuhkan perawatan di ICU. Kortikosteroid parenteral diindikasikan, dan penggunaan bronkhodilator beta 2-adrenergik secara aggresif dilanjutkan. Penggunaan teofilin mungkin bermanfaat bagi pasien.
Tingkat 4
Tingkat ini merupakan tingkatan paling serius dimana PO2 rendah dan PCO2 tinggi, yang menandakan adanya kegagalan pernapasan. Pasien mempunyai fungsi paru atau FEV1 kurang dari 20% dan membutuhkan intubasi dan ventilasi mekanik.
Pasien tingkat 4 sebaiknya dirawat di ICU. Penggantian beta-2 agonis dan antikholinergik inhalasi menjadi metered-dose inhalares (MDI) melalui ventilator mekanik diindikasikan. Steroid parenteral sangat penting, dan teofilin juga dapat diberikan.
NB: Anda suka dengan artikel ini? Silakan bagi ke Teman Facebook Anda. Caranya, cukup KLIK disini. Terima kasih ...
Baca juga:

